Wednesday, September 08, 2010
   
Text Size

Site Search powered by Ajax

Pembuatan Film Indie sebagai Tugas Akhir

Pembelajaran Aplikatif Bahasa Indonesia yang Menantang dan Menyenangkan

Memberikan pengalaman menyenangkan yang kreatif dan inovatif kepada siswa adalah yang diinginkan oleh siswa dalam pembelajaran di sekolah. Ini harus menjadi roh dalam pembelajaran. Ketika sis memiliki ketertarikan, guru harus menjembatani dengan inovasi pembelajaran yang kreatif juga.

Misalnya, pembuatan film indie. Pembelajaran bahasa Indonesia, kelas IX, memiliki proyek yaitu pembuatan film indie sekaligus kegiatan festivalnya. Kreativitas yang melibatkan seluruh siswa bisa menjadi objek pembelajaran.

Mulai dari pembuatan tema, alur, skenario, sutradara, kamerawan, perlengkapan, kostum, sampai editing akan dilakukan oleh siswa secara mandiri. Menyiapkan skenario adalah kegiatan yang menyita pikiran karena banyak kepentingan di diri siswa. Setelah itu, mengambil objek gambar / syuting hampir memakan waktu  3 minggu. Baik mengambil gambar di lokasi sekolah dan kelas, siswa mengambil gambar di rumah, jalan raya, sampai-sampai mengambil gambar malam hari. “Untuk membuat efek menakutkan, karena harus ada unsur horornya,” ujar Anindya, siswa kelas IX B sembari tersenyum renyah.

 

Terobosan, Ulangan Harian dengan Praktik Aplikatif

Memberikan pembelajaran yang aplikatif, menyenangkan, dan menantang tentu sangat menentukan dalam membentuk mental dan pengalaman siswa ke depan. Siswa akan memiliki wawasan dan kreativitas kalau diberikan tantangan berupa pembelajaran yang sesuai dengan usianya.

Setiap pelajaran seharusnya disuguhkan dengan dan berorientasi aplikatif. Seperti halnya Pembelajaran bahasa Indonesia. Lewat pembelajaran wawancara, siswa tidak hanya diberi tantangan berwawancara dengan guru dan karyawan yang ada di sekolah. Atau pada orang tua atau petugas RT/RW yang ada di sekitar rumanya. Siswa diberikan orientasi bahwa objek wawancara sangat banyak. Beragam. Tema yang disuguhkan juga beraneka ragam.

Ketika bulan Ramadhan, siswa SMP Muhammmadiyah 12 GKB Gresik, kelas VIII, mencoba aplikasi jurnalistiknya dengan wawancara penjual pada pasar dadakan yang berada di Perumahan Gresik Kota Baru. Siswa melakukan wawancara kepada penjual dan pembeli pasar jajanan buka puasa. Tidak hanya mengorek cerita dibalik kisah jualan sampai modal dan keuntungannya, siswa juga menerapkan pembelajaran fotografer.

Hanya berselang 1 minggu, 1 kelompok yang terdiri dari 1 siswa sebagai penulis dan fotografer sudah menyelesaikan tugas akhir sebagai ulangan hariannya ke Pembina. Tanpa disadari sebelumnya, karya mereka benar-benar bisa menggambarkan karya jurnalistik professional.

Ulangan harian siswa dijalani dengan aplikasi dan tantangan tidak hanya berkisar pada teori dan teori saja. Menulis itu butuh belajar langsung. Dari situ, siswa merasakan sendiri bahwa menulis adalah kebutuhan dan seni.