Media Pembelajaran Stick Wayang Orang : Media Stimulasi Menulis Naskah Drama Bagi Siswa
Written by Ichwan Arif, S.S.
1. PENDAHULUAN
Ada hal yang menarik dari kalimat yang telah disampaikan Al Black kepada LouAnne Johnson, seperti yang dikutip dalam buku Pengajaran yang Kreatif dan Menarik (2008:198). Ketika melihat siswa duduk selonjor di kursi, menguap, bernafas panjang, dan terus menerus melirik jam dinding. Pikiran siswa melayang dan saling membelalakan mata serta menggeleng-geleng kepala. Al Black berkata, “Satu-satunya yang perlu Anda lakukan adalah menarik perhatian mereka.”
Begitu sederhana perkataan dari Al Black, guru dari LouAnne Johnson tersebut. Kalimat pernyataan yang mampu memberikan inspirasi pada semua guru. Bagaimana menjadi guru yang benar-benar memberikan inspirasi pada semua siswa.
Ketika siswa sering dicekoki dan diceramahi. Dibatasi kreativitas, imajinasi, dan menghilangkan dari mereka rasa bermain sambil belajar, adalah tanda-tanda bahwa siswa sudah tidak at home lagi di sekolah. Sebagus apapun metode dan strategi pembelajaran yang tertulis di RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), kalau hanya dalam tataran teoretik belaka, tidak akan mengubah image siswa terhadap pembelajaran guru di kelas.
Paradigma yang sebenarnya harus dibangun adalah bagaimana cara menghidupkan kembali kenikmatan belajar siswa di sekolah. Artinya adalah menghidupkan kembali semangat, mentalitas, dan motivasi, yang pernah mati suri bahkan mati. Bukan hal mudah. Hal besar yang diperlukan adalah komitmen dan pembiasaan positif. Berani mencoba dengan hal baru. Paradigma belajar yang otoriter dan memusat pada guru, harus dibuang jauh-jauh.
Guru harus menjadi inisiator. Guru selalu memberikan inspirasi siswa di manapun berada. Menurut Thoifuri (2002:25), Gaya guru inisiator itu selalu menekankan pada siswanya memaknai segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk menjadi yang lebih baik. Lebih lanjut, menurut Thoifuri, selain menjadi inisiator, guru harus mampu menjadi interaksional. Yaitu guru yang selalu mengedepankan dialogis dengan siswanya sebagai bentuk interaksi yang dinamis. Guru dan siswa atau siswa dan siswa saling ketergantungan, artinya mereka sama-sama menjadi subjek pengajaran dan tidak ada yang dianggap sebagai paling lebih atau sebaliknya paling rendah (hal:86).
Sesulit apapun pelajaran yang akan ditransformasikan ke siswa, sebenarnya guru harus mampu menerjemahkan dengan baik. Metode pembelajaran harus dioptimalkan dengan baik. Lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan sehingga siswa cepat bosan. Media pembelajaran disusun, dirancang sesuai dengan target yang dikehendaki dengan mengarah pada pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi. Orientasi hakikinya adalah siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan.
Ketika siswa merasa jenuh dengan pelajaran tertentu, sebenarnya guru harus bisa ‘menangkap peluang’ dari gejalah tersebut. Guru harus lebih kreatif dan inovatif. Guru harus lebih berani mencoba lewat metode dan media pembelajaran yang bervariasi. Guru harus mampu memfasilitasi daya nalar siswa. Menurut Gunawan (2006:165), guru harus menjadi katalisastor. Artinya, mampu menumbuhkan dan mengembangkan rasa cinta siswa akan proses pembelajaran dan membantu siswa untuk mengerti cara belajar mereka yang paling optimal.
Semisal pada pelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi yang terkait dengan apresiasi sastra. Anggapan siswa bahwa apresiasi sastra hanya sebatas menghafal judul puisi, novel atau roman, dan sinopsis. Menghafal pengarang dan sejarah periodesasi karya sastra. Dengan asumsi tersebut, tak heran, hanya sebagian kecil saja siswa yang tertarik. Sebagian lainnya terlihat ogah-ogahan, malas, mengikuti pembelajaran di kelas.
Guru bahasa Indonesia harus berani membongkar metode dan media pembelajaran yang selama ini dipergunakan. Buat metode pembelajaran yang inovatif, aktraktif, dan menyenangkan. Media pembelajaran dirancang semenarik mungkin. Lewat game, simulasi, dan demonstrasi. Mengedepankan kreativitas dan memberikan ruang gerak pada imajinasi siswa.
Media pembelajaran Stick Wayang Orang (selanjutnya disingkat SWO) mencoba memfasilitasi rana imajinasi dan apresiasi siswa terhadap olahhati, olahpikir, dan olahrasa. Lewat media pembelajaran tersebut siswa dapat menepis anggapan bahwa belajar menulis karya sastra, khususnya membuat naskah drama, adalah hal yang sangat berat, menjengkelkan, dan membosankan.
Dengan media pembelajaran SWO, siswa dapat bermain dengan imajinasinya. Menafsirkan lewat simbol gambar secara bebas. Memberi batasan sendiri terhadap kreativitas bahasa dialog antartokoh. Merancang tema, amanat, penokohan, dan latar cerita. Tanpa sadar, SWO menjadi hidup yang menceritakan kehidupan imajinasi siswa. Di sinilah, motivasi belajar siswa akan terlihat dengan sendirinya. Lebih penting lagi adalah bahwa kecerdasan linguistik verbal apresiasi sastra siswa akan terbangun dengan baik.
2. PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran SWO dibuat dari bahan daur ulang. Gambar orang diambil dari potongan dari koran dan majalah bekas. Gambar dicari yang menarik perhatian siswa. Minimal terdapat 2 sosok gambar manusia untuk memudahkan dalam penyusunan naskah dialog dalam wayang orang. Gambar dari potongan tersebut dilekatkan pada kertas yang agak tebal sehingga bisa tegak berdiri ketika dilekatkan pada sebuah steak es krim. Layaknya seperti wayang. Seperti nampak dalam gambar di bawah ini :

Aplikasi pengembangan media pembelajaran SWO dalam pelajaran bahasa Indonesia dalam Standar Kompetensi (SK) mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama pada Kompetensi Dasar (KD) menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama.
Gambar tanpa dialog atau caption dalam media pembelajaran yang diambil dari potongan koran dan majalah. Dari gambar tersebut akan dibuatkan dialog bebas oleh siswa dalam bentuk naskah drama. Siswa diberikan kebebasan dalam membuat dialog, mulai dari nama tokoh, perwatakan, tema, isi sampai pada ending ceritanya. Setelah itu, siswa membacakan naskah drama yang telah dibuat berdasarkan gambar.
4. PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Manfaat dari media pembelajaran SWO bagi siswa adalah :
- Motivasi belajar siswa terkait dengan materi pembuatan naskah drama dapat meningkat dengan media pembelajaran dan permainan yang dikembangkan.
- Kreativitas dan imajinasi siswa diberikan ruang gerak yang luas, sehingga siswa memiliki kemampuan untuk mengapresiasi pikiran dan perasaannya.
- Stimulasi gambar yang terdapat dalam SWO akan memudahkan siswa dalam membuat dialog dalam naskah drama.
5. TEKNIS DAN KETERCAPAIAN TUJUAN MEDIA PEMBELAJARAN
- Idealnya meja siswa di kelas ditata melingkar. Sedangkan guru menempati posisi di tengah. Peran guru adalah memberikan instruksi kepada siswa untuk memainkan SWO.

- Guru membagikan SWO kepada masing-masing siswa.
- Guru memberikan instruksi kepada siswa untuk memberikan dialog pada SWO.
- Masing-masing siswa membuat dialog yang disesuaikan dengan gambar yang dipegang. Setelah itu, siswa yang memainkan peran wayang orang dengan cara menceritakan layaknya sebagai dalang, di tengah lingkaran kelas.
- Seluruh siswa secara bergiliran menjadi dalang dengan cara bercerita kepada teman-temannya sesuai dengan dialog yang telah dibuat.
- Setelah semua dalang bercerita, SWO dipindahkan (diberikan) ke teman sebelahnya secara berurutan. Masing-masing siswa memegang karya SWO karya temannya. Siswa tersebut akan memberikan respon dengan cara menentukan tema dan amanat dari masing-masing naskah (dialog) drama dari SWO.
- Masing-masing siswa mendapat tugas untuk menentukan tema dan amanat sesuai dengan dialog yang telah dibuat temannya.
- Secara bergantian, siswa membacakan tema dan amanat berdasarkan naskah dialog dari SWO.
6. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Variabel adalah suatu besaran yang dapat bervariasi atau berubah pada situasi tertentu. Agar tidak terjadi salah persepsi, maka variabel penelitian didefinisikan sebagai berikut :
- Media pembelajaran siswa adalah komponen pembelajaran yang mempunyai peranan untuk mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
- Motivasi belajar adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang ingin dicapai.
- Kecerdasan linguistik verbal adalah kemampuan untuk meyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara kompeten melalui kata-kata untuk mengungkapkan pikiran-pikiran ini dalam menulis, berbicara dan membaca.